Jakarta7 November 20265 menit baca

Seberapa rapuh Jakarta sebenarnya?

Jakarta bisa tergenang air laut di hari yang cerah, terlalu padat sampai warganya tidak muat di jalannya sendiri, dan dalam sejarahnya sudah nyaris hilang empat kali. Ini cerita kota itu dari sudut peta.

Kenapa air laut bisa masuk tanpa hujan?

Banjir rob bukan banjir karena hujan. Airnya datang dari laut yang sedang pasang, lalu masuk lewat celah tanggul dan saluran. Pasang naik lebih tinggi dari biasanya saat bulan baru atau purnama, ketika Bulan dan Matahari segaris dan tarikan keduanya bergabung. Puncaknya bahkan bisa terjadi siang hari, di bawah langit cerah.

Penyebab kedua ada di bawah kaki. Tanah Jakarta Utara terus turun. Badan Geologi mencatat penurunan 0,05 sampai 5,76 cm per tahun, dan di beberapa titik seperti Penjaringan dan Kalibaru lebih dari 4 cm per tahun. Salah satu penyebabnya adalah pengambilan air tanah. Hasilnya, sekitar 18 sampai 20 persen wilayah Jakarta kini lebih rendah dari laut, dan tanggul jadi penahan utama.

±1/5wilayah Jakarta di bawah muka laut
>4 cmtanah turun per tahun di beberapa titik
±1 mMuara Baru di bawah muka laut
±2,5xJakarta Pusat, luas bagian yang di bawah laut

Terlalu padat untuk jalannya sendiri

Coba bayangkan semua warga satu kota bergandengan tangan di sepanjang jalan kotanya sendiri. Satu orang yang merentangkan tangan butuh sekitar 1,5 meter. Di Jakarta, barisan 10,7 juta warganya mencapai 16.043 km, sedangkan panjang semua jalannya cuma 13.083 km. Hampir 2 juta orang tidak kebagian jalan.

Bandingkan dengan Merauke: jalannya hampir 3.000 km, tapi barisan warganya hanya mengisi 12 persen. Tiap orang kebagian 12 meter jalan. Yang menentukan ternyata bukan besar kecilnya kota, tapi berapa orang yang berbagi jalan yang sama.

Kota yang nyaris tidak pernah ada

Pada 1522, Kerajaan Sunda mengizinkan Portugis membangun benteng di Sunda Kelapa. Kalau jadi, nasibnya bisa seperti Malaka yang dikuasai Portugis lebih dari seabad. Tapi pada 22 Juni 1527, Fatahillah merebutnya lebih dulu dan menamainya Jayakarta. Tanggal itu kini dirayakan sebagai ulang tahun Jakarta.

Pada 1619, VOC butuh pelabuhan dekat Selat Sunda karena kapalnya wajib lewat jalur selatan. Banten terlalu kuat, jadi yang direbut Jayakarta, lalu diganti menjadi Batavia. Kota lamanya sempat dijuluki kuburan orang Eropa karena kanal busuk dan malaria, sampai pusat pemerintahan digeser ke selatan, ke Weltevreden di sekitar Monas sekarang. Pada 1920, Belanda bahkan mulai membangun Gedung Sate karena ibu kota mau dipindah ke Bandung, sebelum rencananya batal karena krisis ekonomi.

Ganti penguasa, ganti nama

Jakarta bukan satu satunya. Polanya sederhana: siapa yang berkuasa, dia yang memegang spidol. Batavia menjadi Jakarta di masa pendudukan Jepang, pada 8 Desember 1942 menurut mayoritas sumber Indonesia. Buitenzorg, yang artinya tanpa kekhawatiran, menjadi Bogor.

Jayapura malah punya empat nama dalam waktu singkat: Hollandia, Kota Baru, Sukarnapura, lalu Jayapura. Makassar sempat bernama Ujung Pandang dan kembali ke nama lamanya pada 1999, tapi kode bandaranya sampai sekarang masih UPG.

Sumber dan cara hitung

  1. Rob: peringatan BMKG dan BPBD DKI (November 2026), penjelasan pasang saat Bulan dan Matahari segaris.
  2. Penurunan tanah: Badan Geologi (pengukuran GPS 2015 sampai 2024, Kompas 7 Januari 2026), BRIN (Antara).
  3. Wilayah di bawah laut: kajian ITB dan Dinas SDA DKI (2021). Perbandingan dengan Jakarta Pusat dihitung sendiri dari batas wilayah OpenStreetMap: daratan Jakarta 656 km², Jakarta Pusat 48 km².
  4. Gandengan tangan: panjang jalan dihitung sendiri dari OpenStreetMap (28 Oktober 2026), tanpa jalan setapak dan jalan servis. Penduduk dari BPS (SUPAS 2025 dan data kota 2024). Asumsi 1,5 m per orang.
  5. Sejarah: Museum Nasional (perjanjian Sunda dan Portugis 1522), BRIN Berkala Arkeologi (22 Juni 1527), arsip Gedung Sate (dibangun mulai 1920).
  6. Nama kota: Osamu Seirei No. 16 (dikutip Tirto), Kementerian Sekretariat Negara (Bogor), PP No. 51 Tahun 1971 dan PP No. 86 Tahun 1999 (Makassar), arsip sejarah Kota Jayapura.

Laju penurunan tanah berbeda antarsumber dan lokasi. Angka 40 persen wilayah di bawah laut yang sering beredar tidak kita pakai karena sumbernya tidak jelas. Sebagian sumber menulis Batavia berganti nama pada 8 Agustus 1942.

Pertanyaan yang sering muncul

Kenapa Jakarta bisa banjir rob padahal tidak hujan?

Karena airnya berasal dari laut yang sedang pasang tinggi, terutama saat Bulan dan Matahari segaris, ditambah tanah Jakarta Utara yang terus turun.

Berapa bagian Jakarta yang lebih rendah dari laut?

Sekitar 18 sampai 20 persen wilayahnya menurut kajian ITB dan Dinas SDA DKI (2021).

Kapan Batavia berganti nama menjadi Jakarta?

Pada masa pendudukan Jepang, 8 Desember 1942 menurut mayoritas sumber Indonesia.

✦ Lanjut bernalar

Tonton videonya

Artikel ini merangkum video video berikut.

Semua nalar soal bumi ›